Cinta Semanis Kopi (Draft)

Standard

Serahkan impianmu pada kuasa alam. Kita tak perlu bersikeras menggenggamnya. (Wening)

“Tolong, jangan salahkan aku karena perasaanmu yang menjadi hambar. Bukankah kamu sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang kamu rasakan?”

Aku menghela napas panjang dan terdiam. Lanang selalu membalikkan kalimat yang pernah kuucapkan. Selalu dan selalu saja aku hanya diam, menahan diri. Ini sudah kesekian kalinya. Berapa lama lagi kau bertahan, Wening? Belum cukupkah usahamu selama ini? Continue reading

Advertisements