Menikmati Senja

Suatu senja di sudut kota. Dua anak manusia duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari rotan. Pemuda itu berwajah tampan, rambutnya yang pendek tersisir rapi. Badannya yang tegap hanya terbungkus celana jins hitam dipadu hem putih yang dibiarkan terbuka. Si gadis yang duduk di sampingnya juga sangat cantik, hidungnya kecil, dan mata birunya lentik. Rambutnya yang ikal panjang berkibar tertiup angin senja sepoi-sepoi.

Continue reading

Advertisements

Cinta Semanis Kopi (Draft_Bagian 2)

“Wening … kamu menghilang ke mana?!! Rasanya sudah bertahun-tahun kamu tak singgah kemari.” Rue memelukku erat saat baru saja kumasuki butik Rosemary milik Aoi.

“Memang sudah lama sekali, Rue? Ndak ah, paling-paling baru sebulan,” sahutku sambil membalas pelukannya.

Continue reading

Percakapan Saat Hujan

“Aku biseksual…,” suara bariton itu menghentikan mulutku yang sedari tadi sibuk mengunyah pasta.

Aku mencoba menatap lelaki di hadapanku yang tampak sedikit gelisah. Hm, mungkin dia berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kegelisahannya. Dia tak mencoba tersenyum. Aku hanya melihat gelisah itu dari matanya. Mata itu tak pernah bisa membohongiku meski aku ingin sesekali salah membacanya. Aku berusaha tak bicara, tapi menyeruput pelan kopi latte yang mulai dingin. Kucoba menantikan penjelasannya. Continue reading