Sudah Melewati 100!

Yipi! Yepe!

Akhirnya aku bisa juga melewati angka 100 pos. Ternyata butuh 1 tahun termasuk vakum berbulan-bulan untuk mencapainya. Bangga? Entah ya. Namun, aku berusaha menghargai pencapaian yang tak mudah untukku sendiri.

Hm, bulan ini pun banyak frasa bermunculan dan berhasil kutangkap. Ya, ada semangat yang sempat terlupa kini muncul lagi. Aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini, bukan?

Jadi, ayo menulis lagi!!! Tak perlu muluk untuk segera menyelesaikan novel yang tertunda lama. Cukuplah memahat dulu frasa-frasa pendek di sini. Mari bersemangat! Fighting!

 

Vee

Advertisements

Ngeblog lagi?

Ah, ternyata sudah 6 bulan lebih aku tak pernah menulis di blog ini! Shame on me then. Aku tak tahu alasan yang bisa diterima untuk absen selama itu. Sudahlah, abaikan.

Sekarang apa yang ingin kulakukan? Jelas aku ingin ngeblog lagi, ingin menulis lagi di sini. Rasanya banyak hal ingin kutuliskan tetapi mengapa terasa sulit memulainya? Duh, apa yang harus kutulis? Ada saran? Any suggestion or idea?

Baiklah, tampaknya tulisan pendek ini saja dulu. Semoga aku bisa mulai rutin ngeblog lagi. Bukankah menulis itu melepaskan rerasa?

 

Vee

06.00

05-07-2017

Selasar

Tiada bau yang melebihi aroma tubuhmu ketika sedang menari di sela jari-jari hujan. Maka tempias hujan kubiarkan begitu saja memecut-mecut tubuhku, berharap bisa membasahi ingatan dan membebaskan kenangan, berharap bisa menatap lekuk-lekuk tubuhmu yang seakan dicipta dan ditatah oleh hujan.

Nukilan dari salah satu kisah dalam “Mengawini Ibu” karya Khrisna Pabichara.

Terbitan Kayla Pustaka, Cetakan I tahun 2010

Salah satu buku yang ada tulisan dan tanda tangan penulis! Ah, aku beruntung. Kumpulan kisah di dalamnya pun sangat sarat makna dengan pilihan kata yang tak biasa. Ah, tulisan Daeng memang sedap!

Cinta Semanis Kopi (Draft)

Serahkan impianmu pada kuasa alam. Kita tak perlu bersikeras menggenggamnya. (Wening)

“Tolong, jangan salahkan aku karena perasaanmu yang menjadi hambar. Bukankah kamu sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang kamu rasakan?”

Aku menghela napas panjang dan terdiam. Lanang selalu membalikkan kalimat yang pernah kuucapkan. Selalu dan selalu saja aku hanya diam, menahan diri. Ini sudah kesekian kalinya. Berapa lama lagi kau bertahan, Wening? Belum cukupkah usahamu selama ini? Continue reading