Melankolis (2)

Melankolis-plegmatis, aku seperti pernah membacanya.

Ya, aku akan mudah terhanyut saat membaca kisah romantis.

Aku tak kuasa menahan air mata saat menonton film sedih.

Suara piano pun selalu berhasil membuat hatiku terlarat.

Continue reading

Advertisements

Menikmati Senja

Suatu senja di sudut kota. Dua anak manusia duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari rotan. Pemuda itu berwajah tampan, rambutnya yang pendek tersisir rapi. Badannya yang tegap hanya terbungkus celana jins hitam dipadu hem putih yang dibiarkan terbuka. Si gadis yang duduk di sampingnya juga sangat cantik, hidungnya kecil, dan mata birunya lentik. Rambutnya yang ikal panjang berkibar tertiup angin senja sepoi-sepoi.

Continue reading

Kusudahi

Tanpa angan. Tanpa harap. Tanpa mimpi.

Meski kadang ada euforia membuncah seperti banjir, meski kadang ada nyeri menusuk ingatan tanpa terkendali.

Biarkan seperti apa adanya.

Mengalir saja tanpa harus berpikir arah alirannya, asal tak menghanyutkan siapa pun.

Dan air mata ini biar melesapkan angan tak berujung. Biarkan bumi menerima rerasaku tanpa kata.

Mungkin memang belum waktunya, tapi aku tak mau menunggu.

Jika menunggu, aku hanya akan terlalu tenggelam dalam angan yang tak berujung dan sering tak bermakna.

Aku tahu itu, karena aku ini aku.

Dengan tak menunggu, hadirmu lebih bermakna.

Ah, bukankah itu sudah menjadi harapku?

 

29112017

~vee~

Halo, 2018!

Hai, hai, hai!

Tahun 2018 sudah berlalu beberapa hari dan aku belum menambah isi blog ini. Terlalu! Apakah itu berarti aku lama tak menulis? Hm, tidak juga. Aku menulis 1-2 cerpen meski karena ikut lomba sih. Heuheu. Beberapa coretan dan puisi pendek juga kutulis tapi kumuat di Instagram saja. Jika penasaran, tengok saja akun: veeanuma.

Continue reading