Menikmati Senja

Suatu senja di sudut kota. Dua anak manusia duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari rotan. Pemuda itu berwajah tampan, rambutnya yang pendek tersisir rapi. Badannya yang tegap hanya terbungkus celana jins hitam dipadu hem putih yang dibiarkan terbuka. Si gadis yang duduk di sampingnya juga sangat cantik, hidungnya kecil, dan mata birunya lentik. Rambutnya yang ikal panjang berkibar tertiup angin senja sepoi-sepoi.

Pemuda itu melingkarkan tangan kanannya di bahu gadis itu. Matanya lurus menatap ke depan, ke  arah jalan kecil yang mulai sepi. Di belakang mereka berdiri kokoh bangunan kecil yang mereka sebut rumah. Gadis muda itu tak henti bercerita tentang masa kecilnya, masa-masa dia memakai seragam putih-biru. Bercerita tentang perjalanannya. Tentang jalan di Malioboro yang penuh sesak, tentang pedagang kaki lima, dan ocehan tentang hobi-hobinya. Pemuda itu sesekali mengangguk dan berkata lirih, “Ya, Sayang… aku tahu.”

Sepanjang senja mereka hanya duduk di kursi itu. Memandang sunset diiringi suara orang lalu lalang yang mulai sepi. Mereka hanya berdua. Orang-orang sering bergunjing tentang kebiasaan mereka. Kebiasaan yang telah mereka lakukan sejak menikah dan pindah ke tempat itu. Dan mungkin akan selalu mereka lakukan.

^^^

Lima tahun kemudian di suatu senja di depan rumah di sudut kota. Di kursi rotan yang mulai pudar warnanya, duduk seorang lelaki dengan pandangan yang sama. Namun, kini dia sesekali menoleh, memperhatikan si buyung yang berlari kecil membawa mainan kereta apinya. Di sampingnya tak lagi duduk seorang gadis muda dengan gaun putih berendanya. Tetapi, kini di sampingnya adalah seorang wanita muda dengan daster biru mudanya. Dia tampak keibuan kini. Namun, bibirnya masih lindah menceritakan Malioboro dan pedagang kaki lima. Terkadang wanita itu berhenti bicara, mencari-cari si buyung dengan matanya. Lalu, dia akan kembali bercerita tentang mimpi-mimpinya. Sesekali tangannya yang lembut mengusap perutnya yang membesar. Sementara lelaki itu tersenyum membayangkan si bayi mungil yang akan datang.

Lelaki itu sibuk berpikir tentang bayi mungilnya tetapi bibirnya tak lupa berucap, “Ya, Sayang… aku tahu…,” menanggapi cerita wanita di sampingnya. Wanita itu seakan tak peduli apakah ceritanya akan diperhatikan atau tidak. Lelaki itu hanya mendesah setiap mendengar keinginan tentang rumah yang besar, mobil, dan perabotan mewah. Dia hanya bisa berkata, “Ya, Sayang… aku juga ingin.” Sementara si buyung terus berlari kecil.

^^^

Lima belas tahun berlalu dengan cepat. Kursi rotan itu telah hilang warnanya. Yang duduk di sana sekarang adalah dua orang yang usianya merambah setengah abad. Lelaki setengah baya itu mulai beruban namun wajahnya tetap tampan. Tak lupa tangannya masih kokoh memeluk bahu wanita yang masih tampak muda. Rambutnya masih hitam, hanya bertambah panjang. bibir wanita itu masih setia bercerita tentang Malioboro, pedagang kaki lima, dan mimpinya. Tentang rumah besar dan mobil. Lelaki itu masih juga setia menanggapi dengan kata-kata, “Ya, Sayang… aku mengerti.”

Di sekeliling mereka tak lagi si buyung yang berlari tapi seorang pemuda dengan bola basketnya dan seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Di sela ceritanya wanita itu sesekali terbatuk dan lelaki itu akan menepuk-nepuk halus tengkuk wanita itu. Lelaki itu memandang lurus ke depan, ke arah jalanan yang masih saja ramai oleh kendaraan maupun anak kecil. Sesekali lelaki itu tersenyum sambil membetulkan letak kacamatanya. Entah apa yang ada dalam benaknya.

Senja beranjak malam. Langit mulai gelap dan bulan datang menggantikan matahari. Udara semakin dingin saja. Lelaki itu mempererat pelukannya, sedangkan si wanita terus bercerita.

^^^

Sepuluh tahun sudah hari-hari terlewati. Kursi rotan itu masih setia menunggu walau jalan tak lagi sepi. Di atasnya hanya ada seorang kakek yang rambutnya telah putih semua. Wajahnya penuh keriput dan pendengarannya pun mulai berkurang. Hanya sorot matanya yang tajam dan sisa ketampanannya yang masih ada. Kepalanya tak lagi terisi mimpi dan harapan, tetapi kenangan pesta perak yang serasa baru saja terjadi. Di sudut bibirnya sesekali tergores senyum, senyum yang berdaya pikat kuat.

Sesekali orang berbisik, bergosip tentang dia. Tentang kebiasaannya duduk di kursi rotan tua, tentang kesukaannya bergumam sendiri. Namun, orang-orang itu tak mau bertanya kepadanya.

Sesungguhnya dia tak pernah merasa sendiri. Dia masih juga tak menghiraukan cerita sama yang didengarnya. Tentang jalan-jalan di Malioboro, pedagang kaki lima, juga impian mobil dan rumah besar. Sesekali dia mengucap, “Ya, Sayangiku… aku selalu mengerti….”

Kakek itu seakan tak perduli lagi akan sekelilingnya. Kadang dia terbatuk kecil. Badannya mulai digerogoti usia dan penyakit. Namun, dia tetap tersenyum dan tersenyum… dalam menyapa mentari, saat melihat pelangi…. Malam kian mendekat… dan kakek itu mulai merasa lelah….

*****

 

06 April- 05 Juni 1998

Cerpen yang kutemukan di buku tua.

Advertisements

3 thoughts on “Menikmati Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s