RSS

Cinta Semanis Kopi (Draft_Bagian 2)

26 Dec

“Wening … kamu menghilang ke mana?!! Rasanya sudah bertahun-tahun kamu tak singgah kemari.” Rue memelukku erat saat baru saja kumasuki butik Rosemary milik Aoi.

“Memang sudah lama sekali, Rue? Ndak ah, paling-paling baru sebulan,” sahutku sambil membalas pelukannya.

Pandanganku mengitari butik. Koleksinya penuh pakaian bergaya Korea dan Jepang, mode yang sedang digemari remaja saat ini. Konsep butik Rosemary memang sengaja memilih gaya Asia karena lokasi butik berdekatan dengan beberapa sekolah. Setiap sore bisa dipastikan butik ramai dengan celotehan remaja putri yag sering masih berseragam sekolah. Aoi memang jeli melihat peluang!

“Miss Aoi sedang pergi ke Sunset Corner,” celetuk Rue tanpa kutanya.

“Sunset Corner?” Keningku berkerut.

Rue mengangguk, “Iya, kafe baru Miss Aoi.” Dia menyerahkan sebuah brosur kepadaku. Kafe itu terletak tak jauh dari rumah produksi aksesoris perak milik Lanang. Setahuku, tempat itu dulu memang pernah diincar Aoi karena sangat strategis dan memang belum ada usaha sejenis di sekitarnya. Mengapa aku sampai tidak tahu jika Aoi sudah memiliki kafe baru?

“Apakah sudah lama kafe itu buka?” Pertanyaanku memantik tanda tanya di wajah Rue. Baginya, aku dan Miss Aoi adalah sahabat kental yang pastilah tak punya rahasia satu sama lain. Ah, Rue ….

“Belum, Ning. Kafe itu masih soft opening seminggu ini. Ada perlu dengan Miss Aoi? Kurasa dia tidak akan kemari hari ini. Tadi dia hanya mengirim SMS agar aku menyelesaikan pengiriman beberapa pakaian ke Jakarta dan Medan,” papar Rue sambil kembali menekuni bukti pengiriman di meja kasir.

“Ya sudah, Rue. Aku hanya sekadar mampir kok. Tadi aku dari Taman Bermain Kejora di dekat sini.” Rue manggut-manggut. Akhirnya, aku pun memilih berpamitan.

Sebenarnya aku penasaran dengan kafe baru Aoi. Aku ingin mencoba ke sana, tetapi masih ada enggan untuk bertemu Lanang. Menurut peta pada brosur, kafe Aoi hanya berjarak 200 meter dari rumah produksi milik Lanang. Aku pun memutuskan berjalan ke halte transjogja di seberang Rosemary dan naik bus untuk pulang. Lebih baik aku menyiapkan bahan mengajar besok saja.

+++

‘Ning, ngobrol nanti mlm, ya. Kujemput jam 7n.’

Pesan singkat dari Lanang menyapaku pagi ini. Tumben sekali. Aku cukup membalas pesan itu dengan: ya, lalu lanjut bersiap-siap menemui kawan-kawan kecilku di Hutan Bambu. Nama yang cukup nyeleneh menurutku untuk kelompok bermain dan penitipan anak milik Pak Yudis. Aku memperkenalkan bahasa Inggris untuk anak-anak kelas besar yang akan masuk sekolah dasar dan sesekali membantu di penitipan anak. Hari ini aku ingin berangkat naik sepeda. Udara selama perjalanan cukup segar, sayang untuk disia-siakan.

“Ning, aku pinjam sepeda lipatnya, ya!” teriak Mas Rengga saat aku akan masuk kamar mandi.

“Waa, jangan, Mas!!!” balasku tak kalah nyaring. Aku sedang ingin bersepeda hari ini.

“Mbak, Mas Rengga dah pergi tuh. Tadi dia cerita kalau ikut acara sepeda sehat di kantornya.” Rayi menjelaskan sambil keluar dari kamar mandi. Duh, gagal sudah rencana pencarian inspirasi sepanjang jalan menuju Hutan Bambu.

“Aduh, Mas Rengga kok ya tidak bilang dari semalam. Kalau seperti ini, aku bisa telat.”

“Tenang, Mbak. Minta tolong Mas Lanang untuk mengantar saja!”

Aku mencibir menanggapi usulan Rayi. Tidak, justru aku sedang tak ingin bertemu Lanang sekarang.

“Aku minta tolong kepadamu saja ya, Yi?” aku nyengir. “Awas, jangan berani pergi dulu!” ancamku dari dalam kamar mandi. Pasti Rayi hanya bisa manyun.

Biasanya kutempuh perjalanan ke Hutan Bambu dalam 30 menit dengan sepeda, tetapi kali ini kurang dari 15 menit aku sudah tiba di tujuan. Rayi memang selalu memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kebiasaan itulah yang membuatku paling enggan membonceng Rayi, kecuali amat sangat terpaksa sekali seperti hari ini.

Nuwun ya, Yi. Untuk tebengan yang memacu jantung pagi-pagi,” kataku sembari turun dari motor.

“Iyo, Mbak. Wis yo, aku kuliah dulu. Jatah masuk pagi.”

“Ya, hati-hati, lho.”

Setelah Rayi berlalu, kumasuki gerbang Hutan Bambu. Ah, rasanya seperti memasuki kebun rahasia.

 

(Masih bersambung)

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 26, 2016 in Fiksi singkat, kegiatan menulis

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: