RSS

Cinta Semanis Kopi (Draft)

20 Dec

Serahkan impianmu pada kuasa alam. Kita tak perlu bersikeras menggenggamnya. (Wening)

“Tolong, jangan salahkan aku karena perasaanmu yang menjadi hambar. Bukankah kamu sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang kamu rasakan?”

Aku menghela napas panjang dan terdiam. Lanang selalu membalikkan kalimat yang pernah kuucapkan. Selalu dan selalu saja aku hanya diam, menahan diri. Ini sudah kesekian kalinya. Berapa lama lagi kau bertahan, Wening? Belum cukupkah usahamu selama ini?

“Apakah ada kalimatku yang menyalahkanmu? Aku hanya memintamu untuk menyisihkan waktu akhir minggu ini. Aku ingin … bukan, aku butuh bicara. Sudah lama aku memintanya, kan?” Kuberanikan diri menatap Lanang lekat-lekat. Sekarang atau takkan ada lagi keberainanku untuk bicara.

Lanang balik menatap sambil menyahut pendek, “Lihat nanti.”

+++

Percakapan itu sudah berlalu 2 minggu dan aku masih belum bisa ngobrol bersama Lanang. Memang minggu-minggu ini Lanang kebanjiran order pernak-pernik dari keramik maupun perak. Setiap hari dia sibuk mengecek pengemasan dan pengiriman barang. Ah, aku pun tak ingat kapan kali terakhir kami berbincang tentang perasaan dan hubungan kami yang hampir 5 tahun. Ya, 5 tahun sudah kami berkomitmen untuk saling mengenal.

Aku termangu setelah menyesap teh hangat. Mengapa begitu sulit hanya untuk bertemu dan mengobrolkan perasaan, atau permintaanku terlalu berlebihan? Ah, selintas aku teringat Aoi, sahabat yang juga lama tak berbincang. Apakah Aoi masih sering mengunjungi Pondok Pastry? Aku pun tak lagi ingat kali terakhir bertemu Aoi. Sepertinya sudah terlalu lama kami tak saling menyapa meski hanya melalui SMS. Biasanya kami saling kirim SMS setidaknya pagi dan malam hari, saling menanyakan kabar.

“Mbak Wening, temani aku ke Pondok Pastry ya? Aku mau cari kue untuk ulang tahun temanku besok.” Tiba-tiba Rayi, adikku, menyapa. Entah sejak kapan dia duduk di sampingku.

Sejak kukenalkan pada Pondok Pastry, Rayi malah lebih kecanduan daripada aku. Setiap kali ada acara atau butuh kue, dia langsung ke Pondok Pastry. Dia lebih sering berkunjung ke sana juga, apalagi jika ada teman kantornya yang merayakan sesuatu.

Ndak bosen dengan kue di sana, Yi?” tanyaku iseng. Rayi tertawa, “Ndak tuh, Mbak. Ayo, sekarang saja ke sana sebelum malam.” Tanpa menanti jawabaku, dia  sudah menarik tanganku untuk ikut dengannya.

Pondok Pastry tak begitu ramai malam ini. Aku duduk dekat pintu keluar sementara Rayi memilih kue ulang tahun.

“Lho, kok melamun, Ning? Tidak memesan minuman?”

“Eh, Mbak Tara! Hehe, hanya menemani Rayi, Mbak.” Aku coba tersenyum saat Mbak Tara duduk di depanku. Dia membawa secangkir kopi hitam tampaknya. Hm, aroma kopi yang benar-benar menggodaku untuk memesan satu.

“Sudahlah, aku traktir secangkir kopi ini, ya?” Tanpa menanti jawabanku, Mbak Tara langsung memesan secangkir kopi kepada Andre, waiter yang sedang melintasi meja kami.

Tak sampai 5 menit, aku sudah ikut menyesap kopi hitam dengan sedikit gula. Ah, Mbak Tara masih hapal kesukaanku. Dia pernah bercerita jika kopi hitam itu hasil panenan sepupunya dari Temanggung.

“Kamu sudah bisa menikmati kopi hitam? Aku punya kopi yang diimpor langsung dari Ngawi, lho. Mau coba?”

“Wah, mau banget, Mbak. Tapi jangan sekarang, ya? Lha, bahaya kalau aku malah begadang sampai besok pagi.”

“Oalah, santai saja. Kamu sedang mengejar target? Tenggat cepat ya?” Mbak Tara terkekeh. Aku hanya membalas dengan cengiran.

Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan tentang Aoi, tetapi ….

“Ada apa, Ning? Rasa kopinya tidak enak? Atau butuh teman kopi?”

“Aa, tidak, Mbak!” tukasku cepat. “Ini sudah cukup.”

Sesaat kami sama-sama diam, mencoba menikmati kopi masing-masing. Aoi biasanya akan memejamkan mata lama-lama untuk menikmati harumnya kopi ….

“Beberapa hari lalu Aoi datang bersama kliennya. Mereka memesan kopi hitam ini dan beberapa camilan.” Mbak Tara tiba-tiba bercerita.

Aku hanya diam, tak tahu harus menanggapi bagaimana.

“Kalian sudah lama tidak datang bersama-sama. Kangen juga mendengarkan celotehan kalian. Hm, sebenarnya aku juga ingin promosi menu baru. Hahaha ….”

Kupaksakan sedikit senyuman. Tampaknya Mbak Tara ingin mengatakan sesuatu tetapi membatalkannya.

“Mbak Wening, pulang yuk!” Tepukan Rayi di pundakku mengagetkanku.

“Iyaaa …. Sudah dapat kuenya? Lha, aku dapat apa, Yi?” Aku menyipitkan mata.

Rayi menjulurkan lidah lalu melangkah pergi, “Kan sudah ditraktir kopi Mbak Tara!”

Mbak Tara hanya tergelak.

Malam itu aku bermimpi ngopi bareng Aoi dan Mbak Tara. Ah, mungkin aku memang merindukan Aoi.

+++

*Catatan: Satu tulisan lama yang belum juga kulanjutkan. Tolong, komentarnya, ya! Terima kasih sudah mampir dan baca!

~vee~

Foto dari Internet

Foto dari Internet

Advertisements
 
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: