RSS

Percakapan Saat Hujan

01 Nov

“Aku biseksual…,” suara bariton itu menghentikan mulutku yang sedari tadi sibuk mengunyah pasta.

Aku mencoba menatap lelaki di hadapanku yang tampak sedikit gelisah. Hm, mungkin dia berusaha sebaik mungkin menyembunyikan kegelisahannya. Dia tak mencoba tersenyum. Aku hanya melihat gelisah itu dari matanya. Mata itu tak pernah bisa membohongiku meski aku ingin sesekali salah membacanya. Aku berusaha tak bicara, tapi menyeruput pelan kopi latte yang mulai dingin. Kucoba menantikan penjelasannya.

“Aku tahu kamu takkan terkejut jika aku bilang aku homo, gay, atau penyuka sesama jenis. Aku malah berpikir kamu akan lega mendengar itu.” Kali ini dia tersenyum, tipis sekali. Suara bariton itu sedikit tercekat sebelum senyum muncul.

Aku mengernyit, “Kok bisa?”

Dia menghela napas panjang, “Well, kamu berpikiran cukup terbuka selama ini. Apa yang dianggap tabu atau aneh, nyeleneh oleh orang lain pada umumnya, bisa kamu terima. Maksudku, kamu tak menghakimi seperti reaksi kebanyakan orang.”

Aku nyengir mendengarnya. “Kedengarannya seperti pujian. Terima kasih untuk itu.”

Dia malah mendengus jengkel, “Aku serius! Sebenarnya jika dipikir lagi, aku tak harus mengatakan hal ini. Buat apa? Bukankah aku masih bisa bebas cerita denganmu?”

Kami sama-sama terdiam. Ya, pertemanan kami sudah hampir seabad tapi aku baru saja tahu fakta yang dia katakan tadi. Otakku masih berusaha mencerna, biseksual itu …. Saat tersadar, aku menelan ludah lalu menandaskan kopi tanpa sadar.

“Hei, kamu terkejut? Jangan-jangan kamu baru menyadari apa yang kukatakan tadi? Aish,” Suara bariton itu hampir mencapai nada tenor.

“Maaf, tadi kan awalnya kita sedang ngobrol tentang rencana desain interior kantor Kes.” Aku mengatakan alibiku.

Dia mengedikkan bahunya. “Tidak apa-apa. Aku paham kok.”

Sejenak kami terdiam. Aku mendadak ingin memesan cokelat panas dengan sedikit krim, tetapi sebelum aku angkat tangan dia lebih dulu memanggil pelayan.

“Kami pesan secangkir kopi dengan aroma cokelat kental. Minta sedikit krim di cangkir berbeda. Terima kasih.” Dia memesankannya untukku.

Thank you,” kataku lirih.

Dia mengangguk. “Kamu ingin tahu alasanku mengatakannya sekarang kan?”

Aku tak menjawab.

“Aku hanya ingin punya teman untuk bercerita….”

“Maksudmu tempat sampah?” Koreksiku.

Dia tertawa panjang. Ah, entah mengapa aku merasa lebih tenang setelah mendengar tawanya.

“Iya deh, tempat sampah. Tempat sampah yang kadang bisa membalikkan sampah itu tepat ke mukaku.” Dia kembali tertawa sampai akhirnya secangkir kopi sudah terhidang kembali di depanku.

“Minumlah dulu.” Aku menurutinya. Kusesap pelan aroma kopi yang dibalur cokelat pekat, pahit yang membuatku sakaw.

“Kau tahu betul aku tak keberatan kau jadikan tempat sampah.” Aku menantinya bicara lagi.

“Iya. Kurasa sejak awal pertemanan kita kamu sudah menyadari aku tidak ‘normal’. Benar kan? “

Aku kembali mengernyit, “Maksudnya apa?”

“Apa kau benar-benar tak menyadarinya? Aih, kau tak sepolos itu kan?” Matanya mendelik gemas. Aku hampir saja tertawa tapi syukurlah berhasil kukendalikan diri.

“Hm, kalau kuingat-ingat lagi… dulu aku sempat heran juga karena kau tak pernah cerita tentang pacar atau naksir cewek.” Aku mencoba menggali ingatan yang hampir berlumut.

“Lalu, kenapa kamu tak pernah tanya? Atau mungkin kamu sudah pernah mencari tahu?”

“Eh, kau penasaran?” Aku mencoba menggodanya.

Lelaki itu menutupi kegugupannya dengan memandang ke luar kafe.

“Iya, penasaran jelas ada. Kau tahu rasa ingin tahuku cukup tinggi…,” aku nyengir sebelum melanjutkan kalimatku, “tapi aku berusaha menahan diri. Kau tahu aku tak akan bertanya-tanya atau mencari tahu tentang hal yang mungkin sensitif bagi orang lain. Aku hanya menunggu sampai kau bercerita sendiri.”

“Kalau aku tak pernah bilang?” tanyanya ganti penasaran.

“Ya berarti itu bukan keberuntunganku,” jawabku singkat lalu menyeruput cokelat kembali.

Kembali ekspresi gemas tampak di wajah lelaki itu. Tangannya melayang ke arah dahiku. Aku hanya menjulurkan lidah karena tahu itu hanya pura-pura.

“Dasar! Aku hanya ingin punya teman untuk mendengarkan cerita yang mungkin orang lain takkan tahan mendengarnya. Aku butuh teman yang mau mendengar tanpa menghakimi. Ah, kamu paham kan?”

Aku tersenyum sambil sedikit mengangguk.

“Kok sekarang aku malah terdengar serakah ya…,” Tanya tanpa nada tanya itu terucap pelan.

Tiba-tiba aku tertawa kecil, “Eis, kau mengatakan apa yang pernah kupikirkan dulu.”

Sebelum dia sempat bertanya, aku kembali bicara, “Tak percaya? Aku dulu pernah dengar ada yang mengataimu gay, suka sesama lelakilah, lebih suka lelaki mudalah ….” Kalimatku terhenti untuk terkekeh sejenak.

“Hei!” Aku kaget dengan teriakannya tapi tetep terkekeh lagi.

“Ssttt, aku kan belum selesai cerita….” Aku memintanya duduk dengan pandanganku.

“Hiih, ya, ya…. Aku dengar…,” Badannya terhempas sedikit keras di kursi.

“Aku malah lega dan bersyukur jika kau memang seperti yang mereka bilang. Kenapa? Karena aku ingin memilikimu sebagai teman tanpa takut ada rasa yang lain. Bukankah banyak orang bilang tak mungkin ada persahabatan antara lelaki dan perempuan tanpa ada rasa yang lain, kecuali mereka bodoh atau suka sesama jenis?” Kuseruput lagi kopi yang sudah hangat.

Dia tak mengucapkan apa pun, hanya sedikit mengangkat bibir atasnya. Mungkin dia merasa miris karena pepatah itu sudah jamak.

“Setelah berpikir seperti itu, aku juga merasa serakah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri saat itu.”

Pandangan kami beradu, dalam diam. Cukup lama sampai aku tersenyum dan dia pun menunduk.

“Jadi, aku sedikit paham dengan perasaanmu. Merasa serakah? Mungkin. Namun bagiku, keinginanmu itu manusiawi. Aku bisa menerimanya kok. Kaget? Ya jelaslah. Dulu aku menanti-nanti saat kau mau bicara tentang hal seperti ini. Lama-lama aku coba mengabaikan saja penasaran itu.”

Kami sama-sama diam. Kali ini kami memandang cangkir masing-masing. Di luar kafe tampak hujan mulai turun. Sekarang sudah mulai musim kemarau tapi hujan sesekali masih suka berkunjung, seperti sore ini. Beberapa kali kuhela napas panjang untuk menenangkan diri. Rasa terkejut karena pengakuan itu masih belum reda. Ya, mungkin rasa penasaranku akhirnya menemui jawaban tetapi tak seperti yang kubayangkan memang.

Kulirik sekilas dia masih terdiam menatap cangkir di tangan kirinya. Pandangannya beralih ke jendela di samping kami. Tetes uap air memburamkan gambar toko buku di seberang kafe. Tampaknya hujan cukup deras. Di dalam kafe tak ada suara hujan, hanya suara piano yang dimainkan pianis yang baru bekerja seminggu ini.

“Aku tak bisa bilang aku merasa biasa saja dengan pengakuanmu barusan, tapi itu tak mengubah pertemanan kita. Setidaknya untuk saat ini,” kataku pelan.

Dia mengangguk, “Aku mengerti. Aku memang memilih untuk mengatakan kepadamu saat ini juga karena aku baru menyadarinya. Dulu aku memang berpikir aku hanya menyukai sesama lelaki….”

Dia menatapku sejenak sebelum bicara lagi, “tetapi ternyata aku bisa menyukai perempuan juga…sangat suka.”

Aku mengernyit, “Sepertinya aku belum pernah mendengar atau melihatmu dekat dengan seseorang…maksudku wanita. Eh, tapi kita kan memang jarang ketemu. Mm, bisakah kau cerita dari awal? Make me understandmore.” Aku nyengir menutup kalimatku.

“Aku tak tahu awalnya dari mana…. Bisa berhari-hari kalau harus merunutnya, karena aku pun belum sepenuhnya paham dengan keadaanku saat ini.” Dia menatapku.

Aku seperti melihat seseorang yang berbeda dalam matanya. Selama ini aku melihatnya sebagai lelaki yang cukup santai menghadapi setiap masalah, cuek dengan stigma yang dilekatkan orang lain kepadanya. Selama ini aku melihatnya sebagai teman yang bisa diandalkan dan selalu mau mendengarkan.

“Tak apa. Baiklah, aku tak akan memaksamu bercerita panjang saat ini. Terima kasih sudah jujur kepadaku, ya.” Kutepuk-tepuk tangannya. Ah, kok tangan itu sedikit gemetar….

Dia mengangguk dan tersenyum, “Kuharap kita akan selalu berteman sampai akhir.”

Dadaku mendadak sesak. Aku pun spontan berdiri lalu memeluknya dari belakang. “Temanku…ah, teman baikku.”

Kami terlarut dalam pikiran masing-masing saat suara hujan tiba-tiba menyeruak masuk kafe.

Foto Hujan_Dok.Pri

Foto Hujan_Dok.Pri.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2016 in Fiksi singkat

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: