RSS

Cinta Tak Salah

15 May

“Ah, aku tahu apa yang kurasakan ini salah!” Bi mengacak rambutnya kesal.

“Hoi, jatuh cinta itu tidak ada yang salah atau benar, Pren.” Jo menepuk pundak sahabatnya yang sedang galau.

“Semua orang tahu kami bersaudara!”

“Tapi kalian saudara karena adopsi, bukan? Kalian juga tak dibesarkan bersama sejak bayi. Ingatan kalian sama-sama jelas.”

“Memang. Dia kehilangan orangtua saat masih SD. Sebenarnya wasiat orangtuanya hanya agar orangtuaku merawat dia saja, tetapi orangtuaku ingin mengadopsi dia agar aku punya saudara. Eh, tiga tahun sesudah itu malah ibuku hamil lagi dan lahirlah Alto.”

“Bagaimana dengan dia sendiri? Kau yakin dia juga tak punya perasaan khusus padamu? Ciehhh, khusus.”

“Kurasa tidak. Aish, aku tak tahu pasti. Heh, dia sudah dewasa dan pasti bisa menyeting perasaannya. Kau ini macam tak tahu wanita.”

Mereka tertawa, agak getir.

“Pren, kalau menurutku pribadi, kau tak perlu merasa bersalah karena punya perasaan itu. Akui saja tapi….”

“Tapi apa?”

“Tapi…yang penting adalah sikap yang kau pilih. Apa kau mau melanjutkan perasaan itu? Kau mau menyatakan perasaan itu pada dia? Atau…kau tetap bersikap sebagai kakak yang baik, eh maksudku ya kakak seperti biasanya, seperti yang dia inginkan….”

Bi hanya diam. Hatinya terasa sedikit perih.

“Berat ya, Pren? Aku paham. Kau tak perlu buru-buru atau memaksa diri untuk meredam perasaan itu. Nikmati saja. Aku percaya kau tahu batasnya.”

“Ya…. Aku sadar, sangat sadar kalau hanya bisa sampai di sini. Aku juga tak sampai terpikir untuk menjadikan dia milikku. Tidak, tidak seperti itu.”

Hening cukup lama.

“Jika ini orang lain, aku bisa saja cuek menyatakan perasaanku lalu melangkah pergi. Tapi ini adikku sendiri, Jo.” Bi menelan ludah sebelum melanjutkan ceritanya.“Saat lulus SMU, aku baru sadar jika aku kadang terlalu ingin melindungi dia. Kadang aku terlalu cemburu jika ada teman cowoknya datang. Aih, padahal kadang mereka sungguh hanya belajar kelompok!”

Jo tergelak. “Dia cinta pertamamu?”

Bi menerawang, “Sepertinya begitu. Huah, kok tak seperti kisah yang kudengar dan tonton ya? Cinta pertama begitu indah penuh warna. Ish!” Bi menepis pikirannya sendiri.

Jo kembali menepuk pundak Bi, “Itu juga penuh warna, Pren. Lebih baik dari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan lalu ditinggal tanpa jawaban.”

Mereka kembali tergelak. Ah, cinta… apa itu sebenarnya? Sungguhkah rasa yang Bi punya saat ini adalah cinta?

^^^

Bi melihat May sedang asyik mengetik sambil sesekali menyeruput jus mangganya. Setelah menghela napas beberapa kali, Bi duduk di samping May.

“Jus?” May menyodorkan gelas tanpa menengok.

Bi menyeruput sedikit lalu mengembalikan gelas.

Sedetik, dua detik … satu menit…. Bi hanya mampu menatap May dari samping.

Akhirnya May menoleh, “Ada apa, Bi?”

Bi nyengir, “Aa…cuma iseng ingin tanya.”

“Ya?” Sekarang May malah menghadap Bi dan menghentikan kegiatannya.

“Ih, aku bilang cuma iseng tanya. Kok kamu malah serius begitu.” Bi garuk-garuk kepala.

May tergelak, “Baiklah…. Aku ngetik lagi aja. Silakan bertanyaaa….” May kembali mengetik meski mulai tak konsentrasi.

“May, kamu ingat drama Korea yang baru saja kita tonton 3 hari 3 malam itu? Kita bela-belain pinjam vcd di rental lalu lembur menontonnya. Ingat?”

Kill Me Heal Me? Ingatlah. Kenapa?” May masih menekuni laptopnya.

“Eng, itu lho aku merasa si kembar kok kayak kita…maksudku, saudara adopsi…. Ah, eng….” Bi kehilangan kata-katanya. Kenapa rasanya sulit hanya untuk menanyakan perasaan May. Ah, dasar lelaki! Bi merutuki diri.

May sadar Bi ingin mengatakan sesuatu yang sulit diucapkan. Dia memutar badannya lalu memegang erat kedua bahu Bi.

“Abangku sayang, sebenarnya kamu ingin bicara apa? Saudara adopsi kenapa? Tak ada yang salah dengan itu, kan? Hei, aku sayang Abang, Ayah, Bunda, bahkan Alto. Terima kasih sudah menerimaku sebagai bagian keluarga kalian.” May tersenyum lebar lalu memeluk Bi yang mematung.

Bi mendadak tak tahu harus bersikap bagaimana. Dia ingin memeluk erat May seperti biasanya, tapi kali ini detak jantungnya berdebar lebih kuat dari biasanya. Ah, dia tak ingin May tahu itu.

Memangnya kenapa jika May tahu? Bukankah kamu ingin dia tahu perasaanmu? Atau kau benar-benar ingin menyembunyikan hal itu? Banyak tanya muncul di otak Bi sampai dia harus menggeleng keras untuk mengusir semua itu.

“Heh, May! Kenapa kau malah jadi sentimentil begini?” Bi melepaskan diri dari pelukan May. Dia memasang ekspresi cemberut, meski hatinya masih bergejolak.

May meleletkan lidah. “Eh, bukannya Abang tuh yang sentimentil. Serius nih, eh santai ajalah. Apa…Abang khawatir…ituuu…” May nyengir sebelum lanjut bicara. Dia pun berusaha menahan debaran jantungnya. “Emm, Abang khawatir kalau…aku jatuh cinta pada Abang? Seperti si kembar tuh….”

Kalimat May terputus jitakan pelan Bi yang dalam hati membenarkan dugaan May.

“Apa sih maksudmu? Ya, ya, aku memang cakep…tapi tak perlu menduga sampai sejauh itu, May.” Ekspresi Bi berubah sok ganteng, sikap yang biasa dia tunjukkan pada May.

May menoyor kepalanya sendiri. “Ih, Abang ini kumat lagi! Kepedean jangan dipelihara.”

Mereka tergelak bersama. Hati Bi masih tiba-tiba berdesir melihat tawa lebar May.

Dia adikmu, Bi! Suara di kepalanya terngiang keras kali ini.

Setelah tawa panjang itu usai, May menghela napas panjang lalu bersikap lebih serius. Bi menjadi ikut terdiam pula.

“Abang… jangan khawatir lagi ya? Aku, May, adikmu yang pintar meski tak begitu cantik ini…sangat menyayangimu dan keluarga ini. Aku tak ingin ada yang berubah. Aku sangat bersyukur punya kalian semua hingga tak merasa kesepian lagi.”

Mereka saling menatap dalam dan mulai berkaca-kaca. Sebelum air bening menggenangi matanya, May kembali menekuni laptopnya.

“Sudahlah, Bang. Aku mau lanjut ngetik nih. Beberapa hari lagi aku sudah resmi menjadi mahasiswa lho!”

Bi mengacak rambut May, “Iya deh. Selamat buat mahasiswa baru! Jangan kelamaan kuliah ya. Inget, kuliah ya kuliah, bukan pacaran. Hm, tapi kalau disambi kerja sih masih oke.”

“Idih, malah kayak bapak-bapak aja nih, Abang. Oke, aku harus serius kuliah, sambil kerja kalau bisa, tapi tentu pacaran juga jika ketemu cowok keren! Hahaha….” May terbahak bahkan sampai Bi keluar kamar. Tawa itu berhenti saat bayangan Bi benar-benar hilang.

^^^

Bi menghela napas panjang mengingat percakapan dengan May. Sudah 7 tahun berlalu ternyata. May, adik kecilnya sudah benar-benar dewasa sekarang. Dua hari lagi May bahkan akan menikah dengan lelaki keren pilihannya.

Bi kembali teringat saat memergoki May menangis tanpa suara sambil mengusap sebuah foto. Pelan dia mendekat tapi kemudian berhenti karena tertegun. Foto itu adalah foto orangtua kandung May. Foto lama dan mulai pudar.

“May….”

May cepat menyembunyikan foto ke dalam novel yang dipegang lalu mengusap air matanya.

“Abang! Ada apa?” May berusaha terdengar ceria.

Bi duduk di samping May dan mengambil novel dari genggaman May yang tak berusaha menolak.

Sambil mengeluarkan foto tadi, Bi berucap lirih, “May, meski kamu sudah menjadi keluarga kami, kamu tak perlu mengubur kenangan lama bersama orangtuamu. Mama papamu tetap orangtua kandungmu, kan? Kenangan mereka takkan melukai kami. Ayah dan Bunda pasti senang juga kalau kamu sesekali bercerita tentang kenangan lamamu.”

May terisak lagi. Bi menggenggam erat tangan May yang gemetar, “Tampaknya kamu yang butuh bicara. Katakan saja.”

“Abang… aku..cuma…sedang kangen Papa Mama. Andai mereka bisa hadir saat aku wisuda nanti, atau ketika aku menikah….”

Ucapan May terhenti karena tangis. Bi merengkuh May ke pelukannya. Rasanya hampir tak kuasa Bi menahan tangis dan getir di hatinya tapi dia sadar apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia sepenuhnya sadar jika May membutuhkan Bi sebagai kakak, bukan kekasih.

May, aku di sini. Jika kamu kangen orangtua kandungmu, aku akan menggantikan mereka untuk memelukmu. Jika kau butuh dukungan mereka, aku yang akan menjadi penopangmu.

^^^

Saat hari pernikahan, Bi menyempatkan diri melihat May sebelum berangkat ke gereja. Ah, Bi terpesona. May sungguh tampak cantik dengan gaun pengantin sederhana warna gading. Tak ada mahkota layaknya puteri, May hanya menggenggam 7 mawar yang dirangkai pita putih. Mawar warna salem seperti pilihan May.

“Kamu benar-benar tak ingin sebuket bunga mawar merah, May?” Bi mencoba tersenyum.

May tersipu, “Abang nih. Tidak. Cukup 7 mawar ini menemaniku saat harus mengucap ikrar nanti. Tak apa, kan?”

Bi mengangguk. “Tak perlu ada acara melempar buket bunga juga. Hahaha, nanti kamu langsung memberikannya kepadaku, ya? Ingat itu.” Bi mencoba bercanda.

May nyengir, “Oh, Abang mau memberikannya untuk kekasih Abang? Bolehlah, asal dia juga cantik dan keren.” Mereka tertawa sebentar lalu terdiam bersamaan.

“Boleh tanya kenapa 7 mawar, May?” Bi bertanya hati-hati. Dia tak ingin merusak suasana hati May yang harusnya berbahagia.

“Aih, Abang tak sadar juga? Tujuh itu melambangkan kita semua. Papa Mama, Ayah dan Bunda, Alto, Abang, juga aku.” May mengerjap hingga Bi tertawa ringan.

“Terima kasih, Abangku sayang. Terima kasih sudah selalu mendukungku. Terima kasih sudah menjadi penopang saat aku sangat membutuhkannya. Sungguh aku bahagia menjadi adikmu.” May menatap Bi dengan pandangan mulai buram.

“Ya, baiklah, May. Aku hanya ingin kau bahagia. I do as your wish, Sister…,” jawab Bi lirih.

May memeluk Bi erat sambil menangis pelan. Batinnya berbisik lirih, Biarkan seperti ini saja, Bi. Aku ingin seperti ini selamanya.

Bi pun balas mendekap dan menghela napas panjang, sangat panjang. “Kau tak takut riasanmu luntur, May?”

“Abang!!!”

***

 

Mei 2016

#inspiredbyKMHM

*Silakan dikomentari, ya. Tulisan ini masih seperti ide awal, tapi mungkin cukup seperti ini saja. Entah….

LostFile_jpg_572823784

Ilustrasi dari internet

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2016 in Fiksi singkat

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: