RSS

Dan… Aku Masih Gila

23 Mar

Mereka bilang aku gila. Ya, mereka tidak hanya mengatakannya secara sembunyi-sembunyi. Oh, bahkan saat aku sedang di antara mereka, ucapan itu akan mereka lontarkan langsung kepadaku. Aku marah? Dulu, iya. Namun sekarang, aku tertawa saja.

“Kau ini gila, ya?”

“Itu bukan hanya aneh, tapi tak waras!”

“Jangan kau coba tularkan kegilaanmu itu pada kami! Kami masih waras!”

Aku tak tahu siapa yang aneh, aku atau mereka? Aku dikatai gila padahal aku hanya mengatakan apa yang kutahu. Aku tak mengucapkan kebohongan. Bukankah itu bagus? Entah. Yang pasti, mereka mengatakan aku sudah gila.

^^^

Siang ini aku duduk-duduk saja di lapangan kecil belakang kampung. Aku pilih berteduh di bawah pohon satu-satunya di sudut lapangan. Untunglah mentari cukup ramah sehingga aku tak sampai marah-marah.

Huah, lagi-lagi tadi aku dikatai gila saat lewat pasar.

“Kau sudah terbiasa dikatai gila, bukan?”  Ada suara di atasku. Saat aku mendongak, tak ada siapa pun di sana. Hanya dedaunan yang melambai pelan.

Aku mendesah, “Pasti kau, Pohon, yang baru saja bicara. Kau mulai hapal, ya?” Kudengar kekehan panjang. “Mungkin aku harus mulai cari tempat berteduh yang baru…,” keluhku.

“Eh, jangan!” Sebuah ranting paling dekat mengetuk kepalaku. “Aku sudah mulai terbiasa berbincang denganmu.”

Aku mendongak, “Benarkah?” Pohon mengersikkan dedaunannya untuk menjawab pertanyaanku.

Ah, sebenarnya aku yang lebih sering mendengarkan cerita Pohon. Cerita yang beragam dan tak pernah membosankan. Aku ingat pernah bertanya padanya tentang asal semua cerita itu. Dia menjawab itu bukan cerita, tetapi berita. Berita yang dibawa burung, capung, bahkan kupu-kupu yang selalu singgah di dahannya.

Aku begitu takjub dengan kisah yang diceritakan Pohon setiap aku bersandar pada batang kokohnya. Terkadang aku dengar syair yang sangat puitis sampai-sampai aku tak tahan untuk tak menyenandungkannya sepanjang jalan pulang. Hampir tiap orang yang berpapasan akan bertanya dari mana aku mendengar syair indah itu. Aku pun langsung menjawab dari Pohon dan mereka menertawaiku tanpa henti.

Aku tak begitu peduli saat itu. Tak lama setelah itu, aku cukup beruntung karena berjumpa dengan Burung yang membawa berita tentang bencana dari daerah tetangga. Bencana itu tanah longsor yang membuat satu kampung terisolasi. Penduduknya menanti bantuan yang tak kunjung tiba. Saat aku menyampaikan kabar itu, para tetanggaku malah mencibir. Mereka tak percaya karena televisi maupun radio tak menyiarkan berita itu. Akhirnya, aku hanya bisa menahan rasa jengkel.

Kemudian, tiba juga pertemuanku dengan Kupu dan Capung pada suatu senja dengan langit yang menjingga. Seingatku saat itu aku sedang lelah dan ingin bersembunyi. Dengan bersandar pada Pohon, aku berharap bisa melarutkan penat ditemani hangat sinar mentari yang memudar.

“Kupu, pinjamkan sayapmu semalam saja. Aku ingin menikmati pendar kunang-kunang.”

“Ish, bukankah kau bisa memantulkan pendarnya dengan sayap beningmu?”

“Aku sedang ingin nuansa yang berbeda. Ayolah, Kupu… sekali saja. Kau bilang sedang ingin melepas sayapmu sejenak.” Sunyi mengikuti kalimat itu.

Aku mengernyit. Percakapan itu hampir terlewat pendengaran saat mataku menangkap bayangan dua makhluk mungil di ujung ranting. Mereka hinggap di tengah dedaunan. Aku hanya diam, ikut menanti jawaban Kupu. Lama yang kudengar hanya deheman Pohon dan siulan angin sampai Capung berputar-putar di atas kepalaku. Ya, dia menemukanku.

Aku tak begitu ingat apakah Kupu meminjamkan sayap pelanginya pada Capung. Namun, aku sungguh tak lupa jika senja itu kami berbincang lama tentang dunia rama-rama dan aku mendengar lantunan syair sendu Kupu yang ditingkahi lompatan Capung di wajahku.

Syair itu begitu syahdu hingga aku tak sadar menyenandungkannya sepanjang malam, bahkan hingga pagi tiba. Bukan, bukan hanya semalam tetapi berhari-hari aku menyanyikannya. Kupikir, sejak itulah aku dikatai gila.

^^^

“Hei! Kau tertidur?” Sapaan Pohon menarik kesadaranku yang sempat menengok masa lalu.

“Tidak. Aku cuma melamun.” Aku mendongak, mencari-cari bayangan Burung Kecil atau Kupu atau mungkin Capung.

“Mereka belum muncul hari ini,” Pohon sungguh membaca pikiranku. “Eh, pagi tadi Burung Kecil sempat mampir sejenak dan mengabarkan kalau Kupu sedang menahan diri untuk tak menyayat sayapnya.”

“Sungguhkah? Aih, ada peristiwa apa sampai-sampai Kupu ingin berdarah-darah….” Aku menghela napas panjang. Sampai sekarang aku baru mampu mengagumi kilau perak dari tarian Kupu saat senja. Belum mampu aku menjangkau rasa dan pikirnya.

“Aku tidak begitu tahu juga. Sekarang aku sedang menanti Capung. Biasanya dia suka mencumbui senja di penghujung petang.” Suara Pohon kian lirih, seakan tak ingin mengalahkan desau angin yang menerobos rerantingnya.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita tunggu Capung. Aku mungkin akan melewati malam di sini….” Aku tak yakin dengan kalimatku sendiri. Pandanganku menelisik langit yang tampaknya sudah mengubah diri sedikit kelam. Sejak kapan? Mengapa aku tak menangkap gelagatnya tadi?

“Kau masih risau tentang mereka yang mengataimu gila? Kalau mendengarnya setiap hari pasti lama-lama rasa jengkel juga tak terhindarkan. Wajarlah itu.” Pohon kembali mengersikkan dedaunan yang tepat di atasku.

Belum sempat aku menanggapinya, sosok Capung tampak melintasi rerumputan tak jauh di depanku. Aku hanya diam, menunggu ia mendekat.

“Hei, masih kepikiran hal yang sama?” Aku hanya mengedikkan bahu untuk menjawab Capung.

“Kau tak mengunjungi Kupu?” tanyaku.

Capung berputar-putar di sekitar lututku, “Sudah, sore tadi. Aku singgah sebentar sebelum…”

“Menyapa Senja?” potongku dan disambut kekehan panjang Capung.

“Iya. Itu pun singkat saja karena angin menyeretku kemari.”

Kami diam beberapa saat, lalu Capung kembali bersuara meski sedikit lirih. “Mengapa kau tak bilang saja jika kau baca kisah di sobekan koran, atau tak sengaja mendengar dari radio, atau menontonnya sekilas di televisi?”

Aku mendesah, “Aku tak bisa berbohong, Capung….”

Capung malah tertawa keras. Aku dan Pohon memandang keheranan tetapi tawanya malah makin keras.

“Kau ini! Itu sudah jawabannya.”

“Apa?” Aku sungguh tak paham.

“Capung, jangan membuat bingung orang yang sedang bingung.” Pohon ikut menegur.

Capung menghinggapi hidungku. Dikibaskannya sayap bening yang malam itu memantulkan perak cahaya rembulan. Tak sadar aku terpana.

“Heh, kalau tak bisa bicara bohong… ya tak usahlah bicara. Itu mudah, bukan?” Capung mengepak cepat dan melayang di antara rerumputan di sampingku lalu naik ke ranting paling atas.

Ah, dia sedang mengagumi bintang rupanya. Bintang memang cukup banyak malam ini. Aku tercenung sebentar. Hm, Capung memantik senyumku kali ini.

“Capung! Kau benar!!! Sungguh hanya itu yang perlu kulakukan!” teriakku kencang. Tak peduli lagi jika ada yang mendengarnya. Udara terasa lebih hangat dan angin serasa berebut menciumi wajahku.

^^^

Setelah hari itu, aku tak bicara lagi tentang kisah dari kota seberang atau bersenandung syair romantis. Orang-orang berhenti bertanya-tanya atau mengolokku. Namun, aku masih mencari ketenangan dalam naungan Pohon, bahkan kadang sepanjang malam. Aku pun masih sering berbincang dengan Burung Kecil, Kupu, bahkan Capung… dan aku masih gila.

Maret 2016

Tulisan ini terinspirasi dari sini.

(ilustrasi dari internet)

(ilustrasi dari internet)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2016 in Fiksi singkat

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s